Catatan Ringan: Ini Dia Rahasia Solidnya PSHT

Catatan Ringan: Ini Dia Rahasia Solidnya PSHT

Kembangan, Jakarta Barat. Ratusan lelaki dan perempuan berseragam hitam-hitam ala pendekar tampak memenuhi pelataran dan aula masjid As-Sahara di kompleks kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Barat. Penampilan yang begitu mencolok dari kejauhan.

Ini bukan aksi unjuk rasa para pendekar kepada Wali Kota dan jajarannya. Pagi itu, Senin (28/2/2022), “pasukan hitam-hitam” Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tengah menggelar aksi donor darah, bekerja sama dengan PMI Kota Jakarta Barat. Aksi yang menargetkan 400 pendonor itu menyisakan kesan betapa solidnya organisasi yang didirikan pada tahun 1822 alias satu abad yang lalu ini.

“Hari ini bukan hanya di Jakarta Barat lho, ada 335 Cabang PSHT lain di seluruh Indonesia juga menggelar donor darah, bekerja sama dengan PMI setempat. Sedangkan puncak kegiatan peringatan satu abad PSHT akan dilaksanakan pada tanggal 1 September 2022 mendatang di Candi Prambanan, akan ada peragaan pencak silat secara kolosal di sana,” cerita Mas Sukarmin, sang Ketua Panitia dari PHST.

PSHT atau SH Terate sejatinya adalah organisasi pencak silat yang diinisiasi oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922 dan kemudian disepakati namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate pada kongres pertamanya di Madiun pada tahun 1948. PSHT juga tergabung dan menjadi salah satu pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) yang dibentuk pada 18 Mei 1948.

Tak banyak organisasi yang tetap solid di usia satu abad. Selalu ada badai dalam perjalanan sejarah mereka. Dan PSHT sudah membuktikan sanggup melawan semua badai itu. Lantas, apa rahasia soliditas PSHT selama ini sehingga sanggup mengelola 10 juta anggota di seluruh Indonesia dan sekitar 5 ribu orang di Jakarta Barat?

Pertama, menarik untuk diresapi, ucapan Ketua PSHT Cabang Jakarta Barat, Brigjen (Pol) Pujo Laksono yang menyatakan PSHT tidak mengenal pangkat dan derajat, karena dalam ritualnya semua anggota dianggap sama. “Saya hadir di sini tidak membawa-bawa pangkat, yang saya bawa adalah kepedulian pada masyarakat, karena PSHT ingin menjadi organisasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Pujo yang punya pangkat tinggi di Kepolisian. Kesetaraan itu terlihat dari baju mereka yang sama hitam.

Kedua, karena kesetaraan itu pula, prinsip-prinsip persaudaraan dan kekeluargaan mengalir deras, menjadi ruh setiap anggota PSHT, menjadi kebanggaan di mana pun perguruan silat ini berkiprah. Seperti cerita Wiwiek, ibu muda asal Kedaung, Jakarta Barat. “Saya ikut suami saya jadi donor darah,” ujarnya sumringah. Dia dan suaminya sama-sama anggota PSHT dan senang dengan nilai-nilai persaudaraan dan kekeluargaan yang dikembangkan organisasi itu.

“Ini sayangnya anak-anak saya masih pada kecil. Kalau sudah besar, pasti akan saya ajak jadi anggota PSHT juga, sekaligus donor darah,” canda Wiwiek, sembari menenangkan balitanya yang terlihat tak bisa diam di tengah keramaian.

Cerita Gambianto, mantan Ketua PSHT Cabang Jakarta Barat sebelum digantikan Pojo Laksono, lebih gurih lagi. Pensiunan yang masih tampak awet muda ini sudah sejak tahun 1982 berlatih silat di PSHT. “Tahun 1985 saya disahkan menjadi anggota. Saat itu masih tinggal di Ngawi,” kisahnya kepada media PMI Jakarta Barat.

Tahun 1986, Gambianto hijrah dan bekerja di Jakarta. “Hikmah terbesar menjadi anggota PSHT, saya jadi punya banyak saudara yang sudah seperti keluarga sendiri,” jelas Gambi, didampingi istrinya Lisnawati, mantan atlet pencak silat yang juga terlihat awet muda. Itu sebabnya, Gambi tak pernah takut jika harus bepergian ke luar kota misalnya. Selalu ada anggota (saudara) PSHT yang siap membantu. “Meskipun sebelumnya kami tidak saling mengenal,” ujarnya.

Namun bagi mereka di luar PSHT, jangan coba-coba memanfaatkan kuatnya persaudaraan ini untuk hal-hal negatif. “Ada kode tertentu untuk mengenali, orang ini benar-benar anggota PSHT atau bukan. Pokoknya ada lah, bisa lewat suara, air, rokok, bahkan jaket, enggak akan saya paparkan di sini, nanti bukan rahasia lagi,” papar Gambi sembari tertawa.

Bravo PSHT, mitra PMI yang tahun ini berusia genap satu abad. Semoga tetap solid sebagai organisasi yang berlandaskan prinsip-prinsip kesetaraan, persaudaraan, dan kekeluargaan. Zaman boleh berganti, PSHT tetap di hati. (icul)